Rina Puspita

Manusi disibukkan oleh berbagai hal untuk mengisi waktu yang telah tentu yaitu 24 jam tiap harinya. Banyak profesi yang mereka geluti. Tidaklah lain yang sangat membanggakan adalah sebagai tenaga pengajar, baik formal maupun informal. Bukan berarti yang lain tidak membanggakan sih? Tapi menurut saya pengajar bukanlah hanya seorang guru, dosen, mentor maupun yang lain. Tapi tanpa disadari setiap manusia pada dasarnya adalah seorang pengajar. Bukankah kelak mereka akan mempunyai keluarga sendiri dan memiliki anak untuk mereka ajari tentang berbagai hal? Bukankah mereka setiap harinya akan menasihati anak-anaknya kelak? Bagaimana pendapat Anda?
Setelah membaca buku yang berjudul “ MENJADI GURU FAVORIT ? Pengenalan, Pemahaman dan Praktek Muwujudkannya karya Asef Umar Fakhruddin. Saya dapat me-review sepenggal tentang itu. Sebelumnya saya akan menceritakan sosok guru favorit saya ketika saya duduk dibangku SMA dulu di MAN 2 Surakarta.
Begini, beliau adalah salah satu guru mata pelajaran Matematika. Semenjak materi itu diampu olehnya, saya sangat menyukai yang namanya matematika. Nama beliau adalah Ibu Niken. Bu Niken selalu menekankan pada murid-muridnya bahwa matematika itu adalah sebuah materi pelajaran yang tidak harus dihafalkan, namun sangat perlu untuk dipahami. Mengapa demikian? Sebab dengan pemahaman kita mampu menyelesaikan suatu permasalah yang bervariatif dengan rumus yang sama namun aplikasi yang berbeda. Begitu juga dengan kehidupan. Manusia mempunyai latar belakang kehidupan yang berbeda-berbeda; masalah yang berbeda-beda; cara belajar yang berbeda-beda; pemikiran yang berbeda-beda. Pada dasarnya mempunyai tujuan yang sama yaitu ingin sukses sesuai harapan masing-masing. Beliau mengajarkan tentang logika yang harus selalu diasah agar tetap tajam. Mulai dari hal kecil, misalnya kita sedang bersantai duduk sembari mendengarkan lagu favorit kita. Ketika itu kita hanya terdiam dan bisa jadi ikut menyanyikan lagu tersebut. Menurutnya waktu yang seperti itu bisa kita manfaatkan untuk melatih logika berfikir kita memalui imajinasi masing-masing. Yang mana kita bisa menerka-nerka tentang maksud lagu tersebut; apa tujuannya; kenapa kita bisa menyukainya. Hal-hal semacam itu membuat kita terbiasa berfikir, sehingga otak terbiasa bekerja. Bagaimana guru saya? Hebat bukan?
Hasil dari review buku berjudul “ MENJADI GURU FAVORIT ? Pengenalan, Pemahaman dan Praktek Muwujudkannya ” yaitu  guru merupakan sosok yang serba bisa. Sejatinya guru / pengajar adalah :
1.        Orang tua kedua
2.       Seorang motivator
3.       Sang Petualang
4.       Sang pembebas dan pejuang
5.       Seorang pribadi berjiwa profetik.
Hal tersebut bisa saya simpulkan bahwa menjadi guru atau seorang pengajar harus menyadari jati diri mereka. Peran mereka sangat berpengaruh untuk kegidupan bangsa ini.
Selain itu untuk menjadi guru favorit harus mempunyai kesabaran yang tiada batas. Ingat ya bahwa sabar itu tiada batas. Kalau ada batasnya itu namanya bukan sabar lagi. Kesabaran sejatinya seperti sebuah karet yang berkualitas, yang mana selalu melar tanpa takut putus. Tidak hanya kesabaran saja. Namun untuk menjadi sosok guru yang diidam-idamkan juga harus bisa menjadi sahabat untuk peserta didiknya; bisa menjadi pendengar dikala peserta didiknya sedang galau; bisa konsisten; bisa berkomitmen untuk menjaga nama baik peserta didiknya; mempunyai visi dan misi; rendah hati bukan rendah diri; mempunyai bahasa cinta dan kasih sayang; dan menghargai proses.
Wahai para pengajar. Sudahkah Anda memiliki hal itu? Mampukah Anda menjadi pengajar favorit? Tetap berusaha ya…
“ Guru harus menanamkan bahwa belajar tidak hanya di sekolah. Belajar seperti gaya hidup. Dalam era informasi ini, kita tidak boleh ketinggalan. Siapa pun yang ketinggalan, tidak akan maju.”  ( Philip Bigler, guru teladan dari Virginia )
Label: edit post