undefined
undefined
Manusi
disibukkan oleh berbagai hal untuk mengisi waktu yang telah tentu yaitu 24 jam
tiap harinya. Banyak profesi yang mereka geluti. Tidaklah lain yang sangat
membanggakan adalah sebagai tenaga pengajar, baik formal maupun informal. Bukan
berarti yang lain tidak membanggakan sih? Tapi menurut saya pengajar bukanlah
hanya seorang guru, dosen, mentor maupun yang lain. Tapi tanpa disadari setiap
manusia pada dasarnya adalah seorang pengajar. Bukankah kelak mereka akan
mempunyai keluarga sendiri dan memiliki anak untuk mereka ajari tentang
berbagai hal? Bukankah mereka setiap harinya akan menasihati anak-anaknya
kelak? Bagaimana pendapat Anda?
Setelah
membaca buku yang berjudul “ MENJADI GURU FAVORIT ? Pengenalan, Pemahaman dan Praktek Muwujudkannya
” karya Asef Umar Fakhruddin. Saya dapat
me-review sepenggal tentang itu. Sebelumnya saya akan menceritakan sosok guru
favorit saya ketika saya duduk dibangku SMA dulu di MAN 2 Surakarta.
Begini,
beliau adalah salah satu guru mata pelajaran Matematika. Semenjak materi itu
diampu olehnya, saya sangat menyukai yang namanya matematika. Nama beliau
adalah Ibu Niken. Bu Niken selalu menekankan pada murid-muridnya bahwa
matematika itu adalah sebuah materi pelajaran yang tidak harus dihafalkan,
namun sangat perlu untuk dipahami. Mengapa demikian? Sebab dengan pemahaman
kita mampu menyelesaikan suatu permasalah yang bervariatif dengan rumus yang
sama namun aplikasi yang berbeda. Begitu juga dengan kehidupan. Manusia
mempunyai latar belakang kehidupan yang berbeda-berbeda; masalah yang
berbeda-beda; cara belajar yang berbeda-beda; pemikiran yang berbeda-beda. Pada
dasarnya mempunyai tujuan yang sama yaitu ingin sukses sesuai harapan
masing-masing. Beliau mengajarkan tentang logika yang harus selalu diasah agar
tetap tajam. Mulai dari hal kecil, misalnya kita sedang bersantai duduk sembari
mendengarkan lagu favorit kita. Ketika itu kita hanya terdiam dan bisa jadi ikut
menyanyikan lagu tersebut. Menurutnya waktu yang seperti itu bisa kita manfaatkan
untuk melatih logika berfikir kita memalui imajinasi masing-masing. Yang mana
kita bisa menerka-nerka tentang maksud lagu tersebut; apa tujuannya; kenapa
kita bisa menyukainya. Hal-hal semacam itu membuat kita terbiasa berfikir,
sehingga otak terbiasa bekerja. Bagaimana guru saya? Hebat bukan?
Hasil
dari review buku berjudul “ MENJADI GURU FAVORIT ? Pengenalan, Pemahaman dan Praktek Muwujudkannya
” yaitu guru merupakan sosok yang serba
bisa. Sejatinya guru / pengajar adalah :
1.
Orang tua kedua
2.
Seorang motivator
3.
Sang Petualang
4.
Sang pembebas dan
pejuang
5.
Seorang pribadi
berjiwa profetik.
Hal
tersebut bisa saya simpulkan bahwa menjadi guru atau seorang pengajar harus
menyadari jati diri mereka. Peran mereka sangat berpengaruh untuk kegidupan
bangsa ini.
Selain
itu untuk menjadi guru favorit harus mempunyai kesabaran yang tiada batas.
Ingat ya bahwa sabar itu tiada batas. Kalau ada batasnya itu namanya bukan
sabar lagi. Kesabaran sejatinya seperti sebuah karet yang berkualitas, yang
mana selalu melar tanpa takut putus. Tidak hanya kesabaran saja. Namun untuk
menjadi sosok guru yang diidam-idamkan juga harus bisa menjadi sahabat untuk
peserta didiknya; bisa menjadi pendengar dikala peserta didiknya sedang galau;
bisa konsisten; bisa berkomitmen untuk menjaga nama baik peserta didiknya;
mempunyai visi dan misi; rendah hati bukan rendah diri; mempunyai bahasa cinta
dan kasih sayang; dan menghargai proses.
Wahai
para pengajar. Sudahkah Anda memiliki hal itu? Mampukah Anda menjadi pengajar
favorit? Tetap berusaha ya…
“
Guru harus menanamkan bahwa belajar tidak hanya di sekolah. Belajar seperti
gaya hidup. Dalam era informasi ini, kita tidak boleh ketinggalan. Siapa pun
yang ketinggalan, tidak akan maju.” ( Philip Bigler, guru teladan dari Virginia
)